Connect with us

Business

The 9 worst mistakes you can ever make at work

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Published

on

Photo: Shutterstock

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet ut et voluptates repudiandae sint et molestiae non recusandae. Itaque earum rerum hic tenetur a sapiente delectus, ut aut reiciendis voluptatibus maiores alias consequatur aut perferendis doloribus asperiores repellat.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Nemo enim ipsam voluptatem quia voluptas sit aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni dolores eos qui ratione voluptatem sequi nesciunt.

Et harum quidem rerum facilis est et expedita distinctio. Nam libero tempore, cum soluta nobis est eligendi optio cumque nihil impedit quo minus id quod maxime placeat facere possimus, omnis voluptas assumenda est, omnis dolor repellendus.

Nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque laudantium, totam rem aperiam, eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo.

“Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat”

Neque porro quisquam est, qui dolorem ipsum quia dolor sit amet, consectetur, adipisci velit, sed quia non numquam eius modi tempora incidunt ut labore et dolore magnam aliquam quaerat voluptatem. Ut enim ad minima veniam, quis nostrum exercitationem ullam corporis suscipit laboriosam, nisi ut aliquid ex ea commodi consequatur.

At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti quos dolores et quas molestias excepturi sint occaecati cupiditate non provident, similique sunt in culpa qui officia deserunt mollitia animi, id est laborum et dolorum fuga.

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem eum fugiat quo voluptas nulla pariatur.

Pages: 1 2 3

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Business

5 Pertimbangan Sebelum Mulai Bisnis & Stop Kuliah

Published

on

5 Pertimbangan Sebelum Mulai Bisnis dan Berhenti Kuliah

Mulai bisnis dengan modal nekat dan aji mumpung?

Kadang, keputusan itu memang terdengar berani. Tapi, bisa juga jadi pintu masuk ke keputusan yang paling mahal dalam hidup.

Karena berhenti kuliah dan running  itu bisnis bukan soal semangat sesaat. Itu soal perhitungan jangka panjang yang enggak bisa dibalikin begitu aja.

Kalau kamu lagi bingung: Harus lanjut kuliah atau start bisnis sekarang?

Coba tahan sebentar keputusan itu. Baca dulu 5 pertimbangan penting ini sebelum ambil langkah besar.

1. Sebelum mulai bisnis, apakah usahamu sudah terbukti jalan?

Niatnya mau running bisnis dengan serius. Tapi kalau usahanya masih fase coba-coba, artinya kamu buang jaring pengaman padahal belum tahu bisa berenang atau belum.

Y Combinator menyebut, salah satu kesalahan paling umum dari founder pemula adalah terlalu cepat full-time tanpa validasi problem-market fit.

Jadi, sebelum mulai bisnis secara penuh dan berhenti kuliah, pastikan kamu udah punya traction: Minimal 100 pelanggan loyal, ada repeat order, dan arus kasnya stabil.

Loyal customer and problem-market fit.

2. Apakah kamu punya support system utuk bisnismu?

Bisnis itu jalan sunyi. Kadang sepi, kadang bikin frustasi.

Kalau enggak punya support system, partner bisnis, mentor, atau keluarga yang ngerti medan. Mulai bisnis modal nekat bisa bikin kamu tumbang di tengah jalan.

Nah, kalau dilihat dari data Foundr (2023): Pengusaha usia 20–24 tahun berisiko burnout 2× lebih tinggi jika tidak punya ekosistem pendukung.

Jadi, sebelum mulai bisnis secara mandiri, pastikan kamu enggak berjuang sendirian.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

3. Mulai bisnis perlu alasan yang kuat, apalagi kalau harus DO.

Kalau alasan ingin DO cuma karena capek tugas, konflik sama dosen, atau ngerasa kuliah enggak berguna, itu tanda bahaya.

Jangan jadikan dunia bisnis sebagai pelarian. Karena dalam dunia bisnis nanti, tantangannya bisa jauh lebih keras dari sekadar revisi dosen.

Pada akhirnya, pengusaha sejati bukan yang kabur dari proses, tapi yang sadar kenapa dia memilih jalan lain.

35% lagi gagal karena enggak ada market-nya.

4. Apa rencanamu kalau bisnis pertama gagal?

Menurut CB Insights, 38% startup gagal karena kehabisan uang. 35% lagi gagal karena enggak ada market-nya.

Kalau kamu berhenti sekolah dan hanya mengandalkan satu bisnis itu, lalu gagal, apa yang akan kamu lakukan?

Mulai bisnis memang langkah berani. Tapi, keberanian harus punya fondasi yang kuat juga.

5. Miliki skill yang bisa menguntungkan bisnismu

Keluar dari kampus bukan berarti berhenti belajar. Dunia bisnis itu cepat berubah. Yang enggak terus belajar, pasti tertinggal.

LinkedIn Workforce Report (2023) mencatat bahwa self-learning & skill digital jadi penentu utama daya saing pebisnis muda.

Sebelum mulai bisnis sebagai jalur utama, pastikan kamu punya habit belajar kuat. Kalau belum, DO hanya jadi pelarian, bukan percepatan.

 
 

 

 

self-learning & skill digital jadi penentu utama daya saing pebisnis muda.

Berhenti kuliah bisa jadi awal baru

Namun, bisa juga jadi jalan memutar—kalau diambil dengan terburu-buru.

Yang bikin berhasil bukan DO-nya. Tapi keputusan yang sadar, dan dilandasi persiapan yang jelas sebelum mulai bisnis serius.

Kalau kamu lagi di fase ragu: Antara lanjut kuliah atau mulai bisnis dari sekarang. Tarik napas pelan-pelan. Lalu tanya ini ke diri sendiri: “Aku lagi pengen kabur, atau memang siap pindah jalur ke bisnis?”

Temukan jawaban buat dirimu, tapi kalau kamu butuh mentor buat bantu tentuin langkah, kamu bisa konsultasi gratis bareng tim Sekolah CEO: wa.me/+6281392077733

Continue Reading

Business

Cara Cepat Kaya, 3 Hal Ini Ga Jamin DO Bikin Sukses

94% CEO top dunia tetap lulusan sarjana, dan 90% bisnis baru gagal karena kurang pemahaman strategis.

Published

on

ni 3 Alasan Kenapa DO Bukan Shortcut Jadi Pengusaha Sukses

Mau cepat kaya, tapi bandingin: "Mark Zuckerberg bisa DO dan sukses, kenapa saya enggak boleh DO?”

Kalimat ini sering banget muncul dari anak-anak muda yang baru mulai kenal dunia bisnis.

Apalagi kalau lagi ngerasa sekolah itu bosenin, enggak nyambung sama realita lapangan, dan kayaknya cuma buang waktu.

Namun hati-hati. Bisa jadi yang kamu lihat itu cuma setengah dari kebenaran.

Apabila kamu juga pernah mikir begitu, ini saatnya cek ulang cara pandang tentang “jalan cepat” menuju sukses, dan cepet kaya. 

Kita coba bedah 3 hal kenapa DO saja ga bisa jadi jaminan cepat kaya sebagai pengusaha.

 
 

 

 

1. Mereka DO setelah bisnisnya terbukti jalan, bukan karena bosen sekolah

  • Zuckerberg keluar setelah Facebook tembus 1 juta pengguna.
  • Steve Jobs drop out setelah nemuin value kuat dari Apple. 
  • Bill Gates pun cabut dari kampus ketika Microsoft mulai kebanjiran kontrak.

Mereka keluar karena udah pegang kendali bisnis yang valid, bukan karena jenuh kuliah. Mereka bukan malas belajar. Justru sebaliknya mereka belajar lebih cepat dari yang lain lewat validasi pasar.

CNBC Make It (2021) bilang, 94% dari 100 CEO top dunia tetap lulusan sarjana.

Artinya? Kalau kamu cuma lihat yang sukses karena DO, kamu bisa terjebak dalam “survivorship bias”.

DO tanpa fondasi = ngarep cepet kaya tanpa strategi.

Mereka DO setelah bisnisnya terbukti jalan

2. Mayoritas yang putus sekolah justru enggak jadi siapa-siapa

Kita tahu nama-nama kayak Bu Susi atau Richard Branson.

Tapi gimana dengan ribuan orang lain yang DO tapi enggak pernah kedengeran? Itu realitanya.

Data BLS (Bureau of Labor Statistics, 2022): Rata-rata gaji lulusan SMA tanpa kuliah cuma USD 30,784/tahun. Bandingkan dengan lulusan sarjana: USD 55,260/tahun.

Beda jauh, bukan? Dan ini bukan soal ijazah doang. Tapi soal cara berpikir, daya tahan, dan alternatif kalau bisnis enggak sesuai rencana.

Jangan buru-buru DO kalau kamu cuma ngejar pengakuan atau pengin cepat kaya dari bisnis yang belum matang.

3. Bikin bisnis itu bukan soal nyali doang, tapi kapasitas berpikir juga

Ninggalin kuliah demi “fokus bisnis” yang belum jelas, itu kayak naik motor ngebut tapi belum tahu arahnya.

Bisnis bukan cuma soal keberanian. Tapi juga strategi, perencanaan, dan kemampuan baca data.

McKinsey Global Institute (2020): 90% bisnis baru gagal di tahun pertama. Penyebab utamanya? Minim strategi dan literasi keuangan.

Dan sayangnya, dua hal itu enggak bisa didapet cuma dari modal semangat dan nekat.

Kalau kamu DO sebelum ngerti cara bangun bisnis sehat, maka keinginan buat cepet kaya justru bisa jadi jalan pintas ke arah sebaliknya.

Sukses itu bukan hasil dari DO.

Sukses itu bukan hasil dari DO.

Drop out bisa jadi pilihan. Tapi jangan dijadikan pelarian. Karena di dunia nyata, yang paling bertahan bukan yang paling berani… tapi yang paling siap.

Sukses itu hasil dari keputusan yang tepat, di waktu yang pas, dengan kesiapan yang cukup.

Kalau hari ini kamu lagi bimbang: antara lanjut kuliah atau kejar mimpi cepet kaya lewat bisnis…coba pelan-pelan tanya ke diri sendiri:
“Saya beneran siap? Atau cuma pengin kabur dari tanggung jawab?”

Kalau butuh bantuan menentukan arah bisnismu, temukan solusinya di Sekolah CEO. Konsultasi gratis di sini: Reny: wa.me/+6281392077733

 
 

 

 

Continue Reading

Business

5 Kesalahan Marketing-Bikin Omzet Naik, Tapi Profit Bocor

60% budget marketing terbuang percuma. Apakah kamu sedang mengalaminya? Cek 5 kesalahan yang sering bikin omzet naik, tapi profit tetap bocor.

Published

on

5 Kesalahan Marketing

“Orderan rame, iklan jalan terus, laporan omzet naik. Tapi kok saldo rekening tetap seret?”

 

Kesalahan marketing yang terjadi, banyak pelaku bisnis ngerasa udah kerja keras tiap hari. Ngonten, promosi, iklan, tapi hasil akhirnya kayak enggak sebanding. 

Capek banget, tapi tetep susah dapetin kepuasan.

Padahal masalahnya enggak selalu ada di volume penjualan. Kadang justru ada di arah strategi marketing yang kelihatannya sibuk, tapi diam-diam bocor budgetnya.

Kalau sekarang lagi di fase itu, mungkin ada satu dari tujuh hal ini yang masih kebawa.

1. Iklan terus jalan, tapi enggak tahu arahnya ke mana

Dulu, saya pernah habisin hampir 100 juta buat iklan. Facebook Ads, selebgram, feed estetis; semua dicoba. Hasilnya? Impresi tinggi, likes banyak, tapi profit tetap seret.

Waktu ditelusuri, ternyata kesalahan marketing ini masalahnya bukan di eksekusi, tapi di strategi yang kosong.

Targetnya enggak jelas. Audiensnya ngambang. Kontennya cakep, tapi pesannya enggak nyampe.

Kata orang, marketing itu soal mencuri perhatian. Tapi kalau yang kita tarik perhatiannya adalah orang yang enggak niat beli, ya tetap enggak akan closing.

Iklan Jalan Tapi Customer Diabaikan

2. Fokus ke customer baru, lupa rawat yang lama

jadi kesalahan marketing Setiap bisnis pasti butuh pertumbuhan. Tapi kalau semua campaign selalu soal cari pembeli baru, ada hal yang luput dijaga: pelanggan yang udah percaya dari awal.

Padahal, menurut data Bain & Company, menaikkan retensi customer hanya 5% bisa berdampak ke profit 25–85%. Sementara biaya dapetin customer baru bisa 5 kali lebih mahal dibanding jaga yang lama.

Kalau enggak ada sistem nurturing yang aktif, repeat order akan menurun. Dan ini jadi kesalahan marketing yang bikin cashflow bolong diam-diam, walaupun grafik penjualan naik terus.

3. Makin banyak channel, makin besar kebocoran

Pernah ngerasa makin banyak platform promosi, makin lelah, tapi enggak makin efektif?

Sebar konten dan iklan ke banyak tempat tanpa filter itu seperti isi air ke ember yang bocor. Kelihatan penuh, tapi enggak ada yang tersisa di dasar.

Studi dari Epitomise menyebutkan bahwa 60% budget marketing terbuang sia-sia karena salah arah, salah audiens, dan salah waktu.

Strategi omnichannel itu penting, tapi tanpa pemetaan yang bener, hasilnya cuma boros dan bingung.

Hanya Jualan

4. Cuma jualan, tapi enggak bangun hubungan

Banyak bisnis yang niatnya bagus: harga bersaing, kualitas produk oke. Tapi kesalahan marketing mereka ketika semua komunikasi hanya soal jualan, tanpa interaksi manusiawi. Ini membuat pelanggan lama-lama menjauh.

Di era sekarang, orang enggak cuma beli produk. Mereka beli pengalaman.

Mereka ingin didengar, diperhatikan, dan merasa dihargai.

Bukan sekadar “diskon 20% hari ini”, tapi “terima kasih udah support kami dari awal.”

 
 

 

 

5. Data ada, tapi cuma jadi pajangan

Dashboard lengkap, report tersedia. Tapi kalau enggak pernah dianalisis, semua itu hanya angka yang enggak ngasih arah.

Banyak keputusan marketing masih diambil dari kebiasaan lama atau perasaan. Padahal keputusan besar butuh petunjuk dari data—bukan asumsi.

Strategi yang baik bukan yang paling ramai, tapi yang paling relevan. Dan itu enggak bisa ditebak, harus dibaca dari pola.

Omzet naik itu bagus, tapi profit yang bertahan itu jauh lebih berharga

Omzet naik itu bagus, tapi profit yang bertahan itu jauh lebih berharga

Seringkali yang kita butuhkan bukan campaign baru, tapi keberanian untuk mundur sebentar dan ngecek: “Udah bener belum cara mainnya?”

Itu tadi adalah 5 kesalaham marketing yang perlu kita hindari. 

Kalau tulisan ini bikin kamu diam sebentar, ngerasa ada bagian yang nyantol. Mungkin itu sinyal buat bahwa kamu lagi butuh strateg baru yangi solutif dan praktis. 

Mau punya strategi praktis buat bisnismu? Klik solusinya di Sekolah CEO. Konsultasi gratis di sini: Reny: wa.me/+6281392077733

Continue Reading

Trending